Pada hari Selasa, 21 April 2026, Laboratorium Agribisnis Perikanan, Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, telah melaksanakan kegiatan Diskusi ilmiah dengan tema “Daerah Aliran Sungai Mahakam Tengah: Menuju Model Pengelolaan yang Lestari, Sejahtera, dan Berkeadilan” di Ruang Kerapu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. Tujuan dilaksanakannya acara tersebut adalah berdiskusi mengenai kondisi serta permasalahan utama terkait ekologi ikan air tawar, budidaya perikanan, konservasi satwa, ekowisata, dan aspek sosial ekonomi masyarakat di Daerah Aliran Sungai Mahakam Tengah. Serta bagaimana model pengelolaan yang lestari, sejahtera, dan berkeadilan di DAS Mahakam Tengah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Acara Diskusi Ilmiah diawali dengan pembukaan oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Dr. Moh. Mustakim, S.Pi, M.Si tepat pukul 08.30 wita. Diskusi Ilmiah dipimpin moderator Dr. Anugrah Aditya Budiarsa, S.Pi, M.Si, dengan Narasumber pertama adalah Hetty Priyanti Efendi, S.St.Pi., M.Pi, dari UPT. Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak dengan membawakan materi berjudul “Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Spesies (Pesut Mahakam)”. Narasumber kedua adalah Prof. Dr. Ir. H. Iwan Suyatna, M.Sc, DEA yang merupakan guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. Beliau memberikan materi berjudul “Anugerah, Potensi, Problem dan Pengelolaan DAS Mahakam Tengah”.
Pemantik diskusi dilakukan oleh tim panelis yang terdiri dari Dr. Ir. Komsanah Sukarti, M.P dan Muhammad Syafril, S.Pi, M.Si, keduanya berasal dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. Kedua panelis menganalisis berbagai permasalahan terkait kondisi aktual DAS Mahakam Tengah serta upaya pengelolaannya dari perspektif akuakultur dan sosial ekonomi, guna menghasilkan pandangan yang komprehensif dan holistik. Sesi selanjutnya dilanjutkan dengan penyampaian pendapat dan tanggapan dari audiens. Hasil diskusi ilmiah menyepakati bahwa pengelolaan perairan darat, seperti Sungai Mahakam, masih belum terintegrasi dengan tata ruang daratan, padahal tekanan utama berasal dari aktivitas di darat dan berdampak langsung pada kelestarian satwa endemik seperti Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Oleh karena itu, model pengelolaan yang lestari, sejahtera, dan berkeadilan perlu diwujudkan melalui sinergi regulasi lokal, pengawasan aktif, dan peran kuat seluruh pemangku kepentingan.
